Kamis, 28 April 2016

KEJAYAAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH


KEJAYAAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH


Sepeninggal kholifah Ali bin Abi Tholib (656-661), sebagian masyarakat Islam di Arab, Irak dan Iran memilih dan mengangkat Hasan bin Ali. Beliau memerintah + 3 bulan, setelah itu jabatannya dialihkan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan, karena beliau menyadari kelemahan dan kekurangan dalam kepemimpinannya, dia berfikir Muawiyah yang lebih cocok untuk memimpin Umat Islam.

Pada tahun 661 M, terjadilah perpindahan kekuasaan dari Hasan kepada Muawiyah. Serah terima jabatan itu berlangsung di kota Kuffah, kemudian dikenal dalam sejarah Islam dengan istilah “Amul Jama’ah”.

Perpindahan kekuasaan kepada Muawiyah ibn Sufyan telah mengakgiri bentuk pemerintahan yang demokratis. Kekholifahan ini menjadi semacam monarchi absolut. Dan kekholifahan ini bertahan + sampai 90 tahun, dimulai dari tahun 661 – 750 M. Selama masa pemerintantahan bani Umayyah telah berkuasa sebanyak 14 khalifah dan diantara khalifah yang berhasil dalam menjalankan roda pemerintahan adalah ;

1. Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H / 661-680 M)

Muawiyah dilahirkan + 15 tahun sebelum hijriyah dan masuk Islam pada hari penaklukan Mekah. Beliau diangkat langsung oleh Rasulullah sebagai anggota sidang penulis wahyu yang bertujuan agar Muawiyah lebih akrab dan Islam ini benar-benar tertanam dalam hatinya.

Dalam perjalanan sejarah hidupnya, kemudian dia diangkat sebagai Gubernur Damaskus, dari sini karir politiknya dilakukan secara perlahan, yang kemudian mengantarkannya ke puncak kekuasaan. Diantara yang dilakukan adalah perluasan wilayah dan berusaha menaklukkan beberapa daerah kekuasaan Byzantium dan Persia.

2. Kholifah Abdul Malik ibn Marwan (65-86 H / 685-705 M)

Beliau terkenal karena banyak jasanya dalam menciptakan keamanan di semua wilayah Islam. Setelah keamanan menjadi stabil, maka ia berusaha melaksanakan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat, antara lain :

a. Membentuk mahkamah agung

b. Penggantian bahasa resmi

c. Penggantian mata uang dan lain-lain

3. Kholifah Walid ibn Abdul Malik (86-96 H / 705-715 M)

Pada masa pemerintahan beliau adalah masa-masa keemasan daulat bani Umayyah, karena di samping wilayah Islam luas, kemajuan dalam bidang sosial dan budaya.

4. Kholifah Umar bin Abdul Azis (99-101 H / 717-720 M)

Beliau di kenal dengan keadilannya menjalankan pemerintahan. Ia lebih mementingkan agama dari pada politik, lebih mementingkan persatuan umat.

Beliau dalam menyebarkan Islam dilakukan dengan cara mengirimkan para muballigh ke India, Turki dan Barbar (Afrika).

5. Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H / 724-743 M)

Beliau adalah termasuk orang yang cakap, sehingga masa pemerintahannya mengalami kemajuan yang amat pesat. Adapun wilayah kekuasaan Islam pada masa kejayaan Bani Umayyah adalah memperluas wilayah kekuasaan Islam ke Afrika Utara, ke barat sampai ke Maroko, dan ke utara menyeberangi laut tengah. Kemudian pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik ini berusaha memperluas wilayah ke daerah timur, ke benua Afrika dan Spanyol

A. PERKEMBANGAN SASTRA dan SENI

Beberapa cabang seni budaya/sastra meningkat pada masa Bani Umayyah terutama seni bahasa, seni suara, seni rupa dan seni bangunan (arsitektur). Sementara seni tari tidak dimasukkan dalam kategori seni budaya, sekalipun tari-tarian berkembang luas khususnya dalam istana-istana dan gedung-gedung orang kaya.

Bani umayyah berusaha untuk mempertahankan kemurnian bangsa Arab, mereka berusaha untuk meninggikan derajat bangsa Arab sebagai bangsa penguasa di antara bangsa lain yang dikuasai. Karena kefanatikannya kepada bangsa Arab, khalifah Abdul Malik Ibn Marwan mewajibkan bahasa Arab menjadi bahasa resmi Negara sehingga semua perintah dan peraturan serta komunikasi secara resmi memakai bahasa Arab. Akibatnya bahasa Arab dipelajari orang. Tumbuhlah ilmu qowaid dari ilmu lain untuk mempelajari bahasa Arab. Bahasa Arab menjadi bahasa resmi Negara sampai sekarang pada banyak Negara: Irak, Siria, Mesir, Libanon, Libia, Tunisia, Aljazair, Maroko, di samping Saudi Arabia, Yaman, Emirat Arab dan sekitarnya.

Para penguasa Bani Umayyah semuanya menggunakan tenaga-tenaga penyair, muawiyah mempunyai seorang penyair yang bernama Al-Akhthal. Penyair yang bernama Jarir jatuh ke tangan keluarga Zubair. Ia pernah dihadapkan kepada Al-Hajjaj, dan kedatangannya diterima dengan hormat. Al-Hajjaj ingin menarik simpati Jarir dengan bersikap baik-baik kepadanya, karena itu Jarir lalu memuji Al-Hajjaj dengan berbagai kasidah.

Di bidang seni bangunan (arsitektur), Bani Umayyah berhasil mendirikan beberapa bangunan mewah diantaranya; Mesjid Baitul Maqdis di Yerussalem yang terkenal dengan kubah batunya (Qubbah al-Sakhara) yang dibangun oleh khalifah Abdul Malik pada tahun 691 M dan istana Qusayr Amrah yang terbuat dari kapur berwarna bening kemerah-merahan.

Di samping syair (puisi), seni suara juga tumbuh subur di Hijaz. Pada masa itu hijaz mengirimkan banyak biduan dan biduanita ke istana para khalifah dan yang pertama ialah Mu’awiyah. Ia merasa asyik mendengarkan hikmah sya’ir yang didendangkan dengan irama menarik.

Di antara banyak biduanita yang terkenal pada zaman kekuasaan Bani umayyah ialah seorang wanita yang bernama Salamah Al-Qis. Ia belajar seni suara kepada Ma’bad, Ibnu Aisyah dan Jamilah. Ada lagi seorang pria terkenal mahir menyanyi, yaitu Thuwais Al-Mughanniy. Ia juga pandai menabuh rebana. Penguasa Madinah yang bernama Aban bin ‘Utsman senang bergaul dengannya dan suka mendengarkan lagu-lagu yang dibawakannya.

B. ILMU PENGETAHUAN

Salah satu aspek dari kebudayaan adalah mengembangkan ilmu pengetahuan. Kalau masa Nabi dari khulau ar-rasyidin perhatian terpusat pada memahami Alquran dan hadis Nabi untuk memperdalam pengajaran akidah, akhlah, ibadah, muamalah dari kisah-kisah Alquran, maka perhatian sesudah itu, sesuai dengan kebutuhan zaman, tertuju pada ilmu-ilmu yang diwariskan oleh bangsa-bangsa sebelum munculnya Islam.

Daerah kekuasaanya, selain yang diwariskan oleh khulafau ar’rasyidin, telah pula menguasai Andalus, Afrika Utara, Syam, Irak, Iran, Khurosan, terus ke timur sampai ke benteng tiongkok. Dalam daerah kekuasaannya ada kota-kota pusat kebudayaan. Yunani Iskandariyah, Antiokia, Harran, Yunde Sahpur, yang dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan itu setelah masuk Islam tetap memelihara ilmu-ilmu peninggalan Yunani itu, bahkan mendapat perlindungan. Di antara mereka ada yang mendapat jabatan tinggi di istana khalifah. Ada yang menjadi dokter pribadi, bendaharawan, atau wazir, sehingga kehadiran mereka sedikit banyak mempengaruhi perkembangan Khalid ibn Yazid, cucu Muawiyah, tertarik pada ilmu kimia dari ilmu kedokteran. Ia menyediakan sejumlah harta untuk menyuruh para sarjana Yunani yang bermukim di Mesir untuk menerjemahkan buku-buku Kimia dari kedokteran ke dalam bahasa Arab dan itu menjadi terjemahan pertama dalam sejarah. Al Walid ibn Abdul Malik memberikan perhatian kepada bimaristan, yaitu rumah sakit sebagai tempat berobat dari perawatan orang-orang sakit serta sebagai tempat studi kedokteran.

Khalifah Umar Ibn Abbas Azis menyuruh ulama secara resmi untuk membukukan hadis-hadis Nabi. Khalifah ini juga bersahabat dengan Ibn Abjar, seorang dokter dari Iskandariyah yang kemudian menjadi dokter pribadinya.

Ilmu pengetahuan pada masa Daulah Bani Umayyah terbagi menjadi dua yaitu:


1. Al-Adaabul Hadisah (ilmu-ilmu baru), yang terpecah menjadi dua bagian:
Al-Ulumul Islamiyah, yaitu ilmu-ilmu Alquran, al-hadist, al-Fiqh, al-ulumul Lisaniyah, at-Tarikh dan al-Jughrafi.

Al-Ulumud Dakhiliyah, yaitu ilmu-ilmu yang diperlukan oleh kemajuan Islam, seperti ilmu thib, fisafat, ilmu pasti dan ilmu-ilmu eksakta lainnya yang disalin dari bahasa Persia dan Romawi. 

2. Al-Adaabul Qadimah (ilmu-ilmu lama), yaitu ilmu-ilmu yang telah ada di zaman Jahiliah dan di zaman khalafaur rasyidin, seperti ilmu-ilmu lughah, syair, khitabah dan amsaal.

Pada permulaan masa Daulah Bani Umayyah orang Muslim membutuhkan hukum dan undang-undang, yang bersumber pada al-Qur’an. Oleh karena itu mereka mempunyai minat yang besar terhadap tafsir Alquran. Ahli tafsir pertama dan termashur pada masa tersebut adalah Ibnu Abbas. Beliau menafsirkan Alquran dengan riwayat dan isnaad. Kesulitan-kesulitan kaum muslimin dalam mengartikan ayat-ayat Alquran dicari dalam al-Hadis. Karena terdapat banyak hadis yang bukan hadis, maka timbullah usaha untuk mencari riwayat dan sanad al-hadis, yang akhirnya menjadi ilmu hadis dengan segala cabang-cabangnya. Maka kitab tentang ilmu hadis mulai banyak dikarang oleh orang-orang Muslim. Diantara para muhaddistin yang termashur pada zaman itu, yaitu: Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhry, Ibnu Abi Malikah (Abdullah bin Abi Malikah at-Tayammami al-Makky, Al-Auza’I Abdur Rahman bin Amr, Hasan Basri Asy-Sya’bi.

C. KEMAJUAN BIDANG EKONOMI

Pada masa Bani Umayyah ekonomi mengalami kemajuan yang luar biasa. Dengan wilayah penaklukan yang begitu luas, maka hal itu memungkinkannya untuk mengeksploitasi potensi ekonomi negeri-negeri taklukan. Mereka juga dapat mengangkut sejumlah besar budak ke Dunia Islam. Penggunaan tenaga kerja ini membuat bangsa Arab hidup dari negeri taklukan dan menjadikannya kelas pemungut pajak dan sekaligus memungkinkannya mengeksploitasi negeri-negeri tersebut, seperti Mesir, Suriah dan Irak.

Pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan diadakan pergantian mata uang. Ia mengeluarkan mata uang logam Arab. Sebelumnya, pada masa Nabi Muhammad saw., dan khalifah Abu Bakar, mata uang Romawi dan Persia khususnya pada masa khalifah Umar bin al-Khattab telah banyak yang rusak.

Pembaharuan mata uang yang dilakukan adalah jenis mata uang baru yang bisa dibilang sebagai mata uang resmi pemerintahan Islam. Mata uang tersebut terbuat dari emas, perak dan perunggu yang dalam bahasa Romawi disebut dengan Dinar (uang emas), Dirham (uang perak) dan Fals atau Fuls (uang perunggu).

Gubernur Irak yang pada waktu itu dijabat oleh Hajjaj bin Yusuf ternyata banyak melakukan perbaikan dan pembangunan di Irak ketika ia menjadi gubernur di wilayah itu. Ia berhasil memakmurkan negeri itu setelah diporak-porandakan oleh peperangan yang berlangsung selama kurang lebih 20 tahun. Ia memperbaiki irigasi dengan mengalirkan air Sungai Tigris dan Eufrat jauh ke pelosok negeri, sehingga kesuburan tanah pertanian terjamin. Ia melarang keras perpindahan orang desa ke kota. Kehidupan ekonomi pun dibangun dengan memperbaiki system keuangan, alat timbangan, takaran dan ukuran. Ia juga menyempurnakan tulisan mushaf Al’quran dengan membubuhkan tanda titik pada huruf tertentu.

Masa pemerintahan al-Walid I menampakkan puncak kejayaan dinasti Umayyah. Wilayah kekuasaannya pun bertambah luas sampai ke spanyol di barat dan Sind (India) di Timur. Kesejahteraan rakyat mendapat perhatian besar. Ia mengumpulkan anak yatim, memberi mereka jaminan hidup dan menyediakan guru untuk mengajar mereka. Bagi orang cacat, ia menyediakan pelayan khusus yang diberi gaji. Orang buta diberi penuntun dan bagi orang lumpuh disediakan perawat. Ia juga mendirikan bangunan khusus untuk orang kusta agar mereka dapat dirawat sesuai dengan persyaratan kesehatan. Al-Walid I juga membangun jalan raya, terutama jalan ke Hedzjaz. Di sepanjang jalan itu digali sumur untuk menyediakan air bagi orang yang melewati jalan. Untuk mengurus sumur-sumur tersebut ia mengangkat pegawai. Peninggalan al-Walid yang masih dapat disaksikan sampai kini adalah Masjid Agung Damaskus.

Sektor industri tak luput dari perhatian Umayyah dengan peningkatan produksi handycraft. Industri ini menjadi tulang punggung ekonomi setelah pertanian.

Abdul Malik bin Marwan mengembangkan lembaga ata’ atau pembagian harta rampasan perang secara perlahan-lahan kepada bangsa Syiria. Ketika Yazid I terancam keresahan di Iraq dan pemberontakan Ibnu Zubair di Hijaz, dia merasa berkewajiban untuk menyerahkan garnizum Cyprus kepada Syiria yang praktis merupakan satu-satunya kelompok pasukan yang mendapat pembayaran gaji, demikian pula pasukan yang memblokade Ibnu Zubair di Mekkah dibayar 100 dinar.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz (99 H/717 M), ia terkenal dengan kesederhaan, keadilan dan kebijaksanaannya. Sebelum menjadi khalifah, hidupnya diliputi oleh kemewahan dan kemegahan. Sebagai seorang bangsawan, ia memiliki kekayaan yang melimpah dan gaya hidup gemerlap. Setelah menjadi khalifah, gaya hidupnya berubah. Ia memilih hidup sangat sederhana, ia menjual pakaian dan perhiasannya yang bagus dan mahal, lalu memasukkkan hasilnya ke dalam perbendaharaan Negara (baitul mal).

Selanjutnya ia melakukan pembersihan di kalangan keluarga Bani Umayyah. Tanah-tanah atau harta orang lain yang pernah diberikan kepada orang tertentu dimasukkannya ke dalam baitulmal. Kebijakannya di bidang fiskal mendorong orang non-muslim untuk memeluk agama Islam.

Umar bin Abdul Aziz pernah menghimpunkan sekumpulan ahli fikih dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka: “Aku menghimpunkan kamu semua untuk bertanya pendapat tentang perkara yang berkaitan dengan barangan yang diambil secara zalim yang masih berada bersama-sama dengan keluarga aku?” Lalu mereka menjawab: “Wahai Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung oleh orang yang mencerobohnya.” Walau bagaimanapun Umar tidak puas hati dengan jawapan tersebut sebaliknya beliau menerima pendapat daripada kumpulan yang lain termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata kepada beliau: “Aku berpendapat bahawa ia hendaklah dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya, kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang yang mengambilnya secara zalim.” Umar berpuas hati mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan semula barangan yang diambil secara zalim kepada pemilik asalnya.

Khalifah Umar bin Abdul Azis juga memperingan pajak yang diwajibkan kepada Kaum Nasrani di Cyprus dan Eilah (dekat laut merah). Ia memperlakukan kaum mawali Muslimin (bekas-bekas budak yang telah memeluk Islam) dengan perlakuan seperti yang diberikan kepada kaum Muslimin Arab. Mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak yang dahulu ditetapkan oleh khalifah Umar ibnul Khattab. Ia juga mengizinkan kaum muslimin memiliki tanah-tanah lahan di negeri-negeri yang termasuk di dalam wilayah kekuasaan Islam.

Selama masa pemerintahannya, Umar melakukan berbagai perbaikan dan pembangunan sarana pelayanan umum, seperti perbaikan lahan pertanian, penggalian sumur baru, pembangunan jalan, penyediaan tempat penginapan bagi para musafir, perbanyakan masjid dan lain-lain. Orang sakit mendapat bantuan dari pemerintah. Dinas pos juga diperbaiki agar tidak hanya melayani pengiriman surat resmi para gubernur dan pegawai khalifah atau sebaliknya, tetapi juga melayani pengiriman surat rakyat.

Kesejahteraan masyarakat digambarkan oleh Umar bin Usaid dalam ungkapannya; Demi Allah, Umar bin Abdul Aziz tidak meninggal hingga seorang laki-laki datang kepada kami dengan sejumlah harta dalam jumlah besar dan dia berkata “salurkan harta ini sesuai dengan kehendakmu”, ternyata tidak ada yang berhak menerima harta itu. Sungguh Umar bin Abdul Aziz telah membuat manusia berkecukupan”.

Upaya untuk meningkatkan perekonomian itu, diantaranya dilakukan dengan membangun sarana jalan dan bendungan guna menunjang kelancaran transportasi dan meningkatkan penghasilan masyarakat. Pembangunan perkebunan kapas dan pabrik tenun kesungguhan bagi kemajuan ekonomi masyarakat.

D. KEMAJUAN BIDANG ADMINISTRASI

Guna memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks. Administrasi pemerintahan pada masa Bani Umayyah meliputi; jabatan khalifah (kepala negara) yang memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan jabatan-jabatan dan jalannya pemerintahan, wizarah (kementerian) yang bertugas membantu atau mewakili khalifah dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, kitabah (kesekretariatan), dan hijabah (pengawalan pribadi).

Selain mengangkat majelis penasehat sebagai pendamping, khalifah Bani Umayyah dibantu oleh beberapa orang “al-Kuttab (secretaries) untuk membantu pelaksanaan tugas, yang meliputi:

Katib ar-Rasail; sekretaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat menyurat dengan pembesar-pembesar setempat.
Katib al-Kharraj; sekretaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran Negara.
Katib al-Jundi; sekretaris yang bertugas menyelenggarakan hal-hal yang bekaitan dengan ketentaraan.
Katib as-Syurtah; sekretaris yang bertugas menyelenggarakan pemeliharaan keamanan dan ketertiban umum.
Katib al-Qudat; sekretaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hokum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.

Perbaikan di bidang administrasi pemerintahan dan pelayanan umum dilaksanakan oleh khalifah Abdul Malik dan gubernurnya. Di bidang administrasi pemerintahan ia memerintahkan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa resmi di setiap kantor pemerintah. Sebelum itu bahasa Yunani di di gunakan di Suriah, bahasa Persia dan bahasa Qibti di Mesir. Abdul Azis bin Marwan, saudara Abdul Malik yang menjadi gubernur di Mesir, berjasa dalam pembangunan Mesir pada masanya. Ia membuat pengukur air Sungai Nil, membangun jembatan dan memperluas Masjid Jami Amr bin As.

Hisyam bin Abdul Malik (106-126 H/724-743M) dikenal sebagai khalifah yang cermat dan teliti. Ia memperbaiki administrasi keuangan Negara sehingga pemasukan dan pengeluaran berjalan dengan teratur tanpa terjadi penggelapan atas uang baitulmal. Karena sangat teliti di bidang keuangan, ia dianggap sebagai khalifah yang pelit. Uang Negara tidak bias dikeluarkan kecuali untuk hal yang sangat perlu sekali.

Jumat, 18 Maret 2016

Puasa, Keutamaan Puasa, dan Keutamaan Ramadhan

Puasa, Keutamaan Puasa, dan Keutamaan Ramadhan


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS. Al Baqarah(2) ayat 183)
 
Puasa adalah Menahan makan, minum, jima’ dengan isteri pada siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Niat puasa sejak malam hari –sebelum masuk waktu fajar/subuh.

“Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, lalu sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (QS. Al-Baqarah:187).

“Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya” (HR. Abu Dawud).

Yang Wajib Puasa
  • Muslim/Muslimah yang beriman 
  • Aqil Baligh/mukallaf/dewasa.
  • Sehat/waras/sadar /tidak gila.

Orang yang diwajibkan puasa Ramadhan adalah setiap orang beriman (lelaki dan wanita) yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal/sadar.

“Telah diangkat pena (kewajiban syar’i/taklif) dari tiga golongan: dari orang gila sehingga dia sembuh, dari orang tidur sehingga bangun, dan dari anak-anak sampai ia bermimpi/dewasa” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

Yang Dilarang Puasa

Yang dilarang puasa adalah wanita yang sedang haidh sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

“Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata, saat kami haidh pada masa Rasulullah Saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha shalat” (HR Bukhari-Muslim). 

Orang yang Diberi Kelonggaran untuk Tidak Melaksanakan Puasa

Orang beriman yang dibolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha pada bulan lain, ialah:
  • Orang sakit yang dirasa tidak kuat dalam menjalankan puasa
  • Orang yang bepergian (musafir). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.
Orang mukmin yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:
  • Umurnya sangat tua dan lemah.
  • Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
  • Karena hamil dan khawatir akan kesehatan dirinya.
  • Sakit menahun
  • Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan.

“Siapa saja yang sakit atau dalam musafir (bolehlah ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain…” (Al-Baqarah:185.)

“Maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang miskin bagi orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi).

“Wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin “ (HR. Abu Dawud).

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa
  • Sengaja makan dan minum pada siang hari. Bila terlupa makan dan minum pada siang hari, maka tidak membatalkan puasa.
  • Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa.
  • Pada siang hari terbesik niat untuk berbuka.
  • Dengan sengaja menyetubuhi istri pada siang hari Ramadhan, ini di samping puasanya batal ia terkena sanksi berupa memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.
  • Datang bulan pada siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk Maghrib).

“Barangsiapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa, maka tidak wajib qadha (puasanya tetap sah), sedang barangsiapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya batal)” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).


KEUTAMAAN PUASA


  •  Puasa adalah Perisai



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ



“Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’)

  •  Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pahala yang Tak Terhingga
  •  Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Dua Kebahagiaan
  • Bau Mulut Orang yang Bepuasa Lebih Harum di Hadapan Allah daripada Bau Misik/Kasturi



Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى ، وَأَنَا أَجْزِى بِهِ . وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ ، أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ . وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ ، وَإِذَا لَقِىَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ



“Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau minyak kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya’. “ (HR. Bukhari dan Muslim)

  •  Puasa akan Memberikan Syafaat bagi Orang yang Menjalankannya



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ



“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa akan berkata,’Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafaat kepadanya’. Dan Al-Qur’an pula berkata,’Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafaat kepadanya.’ Beliau bersabda, ‘Maka syafaat keduanya diperkenankan.’” (HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Mujma’ul Zawaid)

  •  Orang yang Berpuasa akan Mendapatkan Pengampunan Dosa



Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ



“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

  •  Bagi Orang yang Berpuasa akan Disediakan Ar Rayyan



Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ



“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”. (HR. Bukhari dan Muslim)

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN
  • Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Bulan ini dipilih sebagai bulan untuk berpuasa dan pada bulan ini pula Al-Qur’an diturunkan. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,



شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ



“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Setan-setan Dibelenggu, Pintu-pintu Neraka Ditutup dan Pintu-pintu Surga Dibuka Ketika Ramadhan Tiba



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ



“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Muslim)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan,”Pintu-pintu surga dibuka pada bulan ini karena banyaknya amal saleh dikerjakan sekaligus untuk memotivasi umat islam untuk melakukan kebaikan. Pintu-pintu neraka ditutup karena sedikitnya maksiat yang dilakukan oleh orang yang beriman. Setan-setan diikat kemudian dibelenggu, tidak dibiarkan lepas seperti di bulan selain Ramadhan.” (Majalis Syahri Ramadhan, hal. 4, Wazarotul Suunil Islamiyyah)



  • Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan



Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah -yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.

Allah ta’ala berfirman,



إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ – وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ – لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ



“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr [97] : 1-3)



Dan Allah ta’ala juga berfirman,



إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ



“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3)


  • Bulan Ramadhan adalah Salah Satu Waktu Dikabulkannya Doa
Dan sesungguhnya saat bulan Ramadhan tiba, Allah membuka semua pintu doanya bagi seluruh hambanya yang berpuasa. Maka dari itu manfaatkan lah waktu Ramadhan ini untuk meminta yang sebanyak-banyaknya kepada Allah SWT, karena hanya Dia tempat kita meminta dan hanya Dia juga tempat kita kembali




Semoga pembahasan di atas dapat mendorong kita agar lebih bersemangat untuk mendapatkan keutamaan berpuasa di bulan Ramadhan dengan cara menghiasi hari-hari di bulan yang penuh berkah tersebut dengan amal saleh yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang mulia.



Rabu, 16 Maret 2016

Asmaaul Husna yang Wajib Kita Ketahui


Asmaaul husna (bahasa Arab: أسماء الله الحسنى, asmāʾ allāh al-ḥusnā) merupakan nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi asma'ul husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.


Sejak dulu para ulama banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh musyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta'ala. Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat Dzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad.




Dan ternyata Asmaaul Husna pun dibahas di dalam Qur'an, Sebagaimana firman Allah dalam QS Thaa-Haa(20) ayat 8 dan QS Al Isra'(17) ayat 110:
  • Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai Asmaaul Husna (nama-nama yang baik).” – (QS Thaa-Haa(20) : 8)
  • Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” – (QS Al Israa’(17): 110)
  • Dari Abu Huraira R.A.: Nabi saw. bersabda: “Allah itu memiliki sembilan puluh sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan masuk syurga. Sesungguhnya Allah itu ganjil [esa] dan Dia menyukai [bilangan] yang ganjil.” – Sahih Bukhari

Dan berikut 99 Asmaul Husna yang bisa kita hafalkan dan semoga akan bermanfaat juga bagi kehidupan kita. Aamiin :-)





Sabtu, 12 Maret 2016

Wow!! Ini Dia 6 Manfaat Dzikir untuk Kehidupan Kita

Wow!! Ini Dia 6 Manfaat Dzikir untuk Kehidupan Kita |Sering nggak tahu harus ngapain saat waktu luang menunggu orang atau menunggu antrian? Jangan biarkan pikiranmu melayang-layang nggak jelas.

Daripada mikir sesuatu yang nggak jelas, mendingan manfaatkan waktu untuk beristighfar. Banyak loh manfaatnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).

Rasulullah Muhammad yang merupakan manusia yang selalu diampuni oleh Allah pun tidak pernah lupa untuk selalu berdzikir, nah mengapa kita yang hanya manusia biasa yang tidak luput dari dosa terkadang lupa untuk berdizikir karena kesibukan dunia. Sesungguhnya berdizikir ini memiliki beberapa manfaat yaitu: 


1. Kebahagian Setelah Kematian
Ketika seorang muslim meninggal dunia, maka harta, istri, anak, dan kekuasaan akan meninggalkannya. Ya, pada intinya sih semua akan meninggalkannya kecuali dzikir kepada Allah lah yang akan selalu bersamanya. Saat itulah amalan baik kita didunia dan dzikir kita kepada Allah Ta'ala akan meberikan manfaat yang luar biasa bagi dirinya.

Imam Ghazaki memberikan ilustrasi menarik akan hal ini "Ada orang bertanya, 'ia sudah lenyap , lalu bagaimana perbuatan dzikir kepada Allah masih tetap kekal bersamanya?"

Imam Ghazali pun menjelaskannya, "Sebenarnya ia tidak benar-benar lenyap, yang juga melenyapkan amalan dzikir. Ia hanya lenyap dari dunia dan alam syahadah, bukan dari alam malakut. Hal ini tertera dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 169-170."
 "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki(169) Mereka dalam keadaan gebira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang0orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadapa mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS Ali Imran(3): 169-170)

 2. Menjaga diri untuk selalu bertaubat
Membaca istighfar menjaga diri kita untuk selalu bertaubat, karena manusia adalah tempat salah dan dosa.

3. Menghapus dosa dan kesalahan
Terus memperbanyak taubat dan istighfar akan menghapus dosa dan kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja.

4. Melancarkan rezeki
Buat yang sering mendapatkan masalah finansial, perbanyak membaca istighfar. Allah SWT berfirman, “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12).

Ayat tersebut menjelaskan secara gamblang bahwa bacaan istighfar bermanfaat untuk melancarkan rezeki.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rezeki dalam hadits yang berbunyi, “Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

5. Senantiasa Diingat oleh Allah Ta'ala
 Allah SWT berfirman pada QS Al Baqarah [2] ayat 152 yang artinya: "Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat(pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku" (QS Al Baqarah [2]:152)

Dalam hadist Qudsi juga disebutkan, "Allah Ta'ala berfirman, 'Aku akan bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku." (HR. Baihaqi & Hakim).

Masyaallah, bagaimana kalau Allah yang mengingat diri kita yang dhoif. Rasa senang dan terharu akan senantiasa terpancar pada diri kita.

6. Diliputi kebaikan demi kebaikan
Seorang muslim yang senantiasa berdizkir akan senantiasa mendapatkan kebaikan demi kebaikan.

Rasulullah bersabda,"Tiada suatu kaum yang duduk sambil berdzikir kepada Allah melainkan mereka akan dikelilingi oleh malaikat, diselimuti oleh rahmat dan Allah akam mengingat mereka dihadapan makhluk yang ada di sisi-Nya." (HR. Bukhari)


Semoga dengan artikel ini kita bisa menjadi hamba yang selalu berdzikir, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam QS. An-Nisa[4]:103 yang artinya:"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring"(QS. An-Nisa[4]:103).
 

Minggu, 06 Maret 2016

Ringkasan Sejarah Abdul Malik bin Marwan


Setelah Yazid wafat, terjadilah kekosongan posisi khalifah. Abdullah bin Zubair yang tinggal di Mekah segera mendeklarasikan diri sebagai khalifah. Namun, tokoh-tokoh sahabat dan tabi’in semisal Abdullah bin Umar bin al-Khattab, Nu’man bin Basyir, Muhammad bin Ali bin Abi Thalib (Muhammad al-Hanafiyah), Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, dan Said bin al-Musayyib tidak menyetujui apa yang dilakukan Abdullah bin Zubair.

Mulailah terjadi kekacauan dalam Daulah Umayyah. Kekacauan terus berlangsung antara tahun 64H–86H pada masa Khalifah Muawiyah bin Yazid, Marwan bin Hakam, dan Abdul Malik bin Marwan.

Pada masa ini, dua khalifah yakni Marwan bin Hakam dan putranya, Abdul Malik bin Marwan, menjadi titik balik perubahan dan meletakkan sendi-sendi kebangkitan kekhalifahan.


Abdul Malik bin Marwan
adalah Khalifah ke V dari Dinasti Bani Umayyah ,Abdul Malik bin Marwan dilantik sebagai khalifah disamping setelah ayahnya pada tahun 65 H / 684 M, , yang secara keseluruhan Bani Umayyah berkuasa dalam kekhalifahannya selama 90 tahun. Dinasti Umayyah beribu kota di Damaskus. Abdul Malik bin Marwan merupakan putra dari Khalifah Marwan bin Hakam. Nama lengkap beliau adalah Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin Ash bin Umayyah.
 
Melihat dari nasabnya, Abdul Malik bin Marwan dibesarkan dari keluarga ningrat. Pendidikan, kesejahteraan dan spiritual ia dapatkan dengan mudah. Walaupun demikian Abdul Malik bin Marwan sebelum diangkat menjadi khalifah ia tergolong orang yang tidak begitu menyukai kemewahan berupa fasilitas-fasilitas dari ayahnya. Pada zaman mudanya ia termasuk sosok yang zuhud, faqih, dan dianggap sebagai salah satu ulama besar dikota Madinah.
Abdul Malik bin Marwan memulai karir politiknya didalam kekhalifahan adalah ketika ia diangkat sebagai gubernur kota Madinah oleh Muawiyyah. Meskipun saat itu umurnya masih 16 tahun. Ini berarti disamping posisinya sebagai seorang ulama besar dikota Madinah, ia juga merangkap jabatan sebagai seorang politikus pemerintahan yaitu gubernur kota Madinah. Dualisme jabatan ini bukan berarti menurunkannya dari visi misi keulamaannya melainkan semakin meningkat kapasitas diri untuk menjadi seorang khalifah sepenuhnya dan ulama yang bijak. Selanjutnya ia menjadi khalifah pusat menggantikan ayahnya, yaitu Marwan bin Hakam. Ayahnya meninggal karena dibunuh oleh ibu tirinya sendiri. Marwan bin Hakam (ayahnya Abdul Malik) menikahi ibunya Khalid yang ia abaikan hak Khalid sebagai pewaris Muawiyyah II, maka ibu Negara (ibunya Khalid) kini istri Marwan bin Hakam tidak menyukainya dan membunuh Marwan dengan mencekik lehernya dalam keadaan tidur.
 
2. Sistem pemerintahan Pemerintahan Abdul Malik bin Marwan pada dasarnya tidak berubah dari sistem-sistem sebelumnya, yaitu Monarchi Heridetis (kerajaan turun menurun). Dalam menjalankan pemerintahan, Abdul Malik bin Marwan melakukan berbagai trobosan-trobosan eksplisit dalam mengembangkan wilayah kekuasaannya. Akan tetapi dalam mengembangkan trobosan dan ekspansi penaklukan ke wilayah yang lain Abdul Malik bin Marwan mendapatkan gangguan keamanan di internal Kerajaan, yaitu perlawanan kaum Khawarij dan kaum Asy’ats. Gangguan keamanan itu bisa diredam sebelum membesar. Selanjutnya Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukkan Balkh, Bukhoro, Khawarizm, Ferghana, dan Samarkan. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Balugistan, Sind, dan daerah-daerah Punjab sampai ke Maltan.
 
3. Peristiwa-peristiwa penting dimasa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan

a. Pemberontakan Abdurahman Ibnu Asy’ats (81-85 H/ 700-704 M).Hajjaz yang saat itu menjadi Gubernur Irak menugasi Abdurrahman untuk melakukan penyerangan ke Negeri Turki pada tahun 81 H. dan berhasil mencapai banyak kemenangan-kemenangan. Kemudian ia menyatakan pembangkangannya kepada Hajjaz dan Abdul Malik bin Marwan. Lalu dia memerangi Hajjaz dan berhasil menjadikan Irak dibawah kekuasannya. Setelah wilayah timur berhasil dibawah kekuasaannya kecuali Khurasan. Disana terjadi perang antara dia dan pendukung pemerintahan Umayyah.
Akhirnya dia kalah dan melarikan diri pada tahun 82 H. Lalu dibunuh pada tahun 85 H/704 M. Hajjaz membunuh sekian banyak ulama yang mengikuti gerakan Abdurrahman Ibnu Asy’ats. Ini diantaranya Said bin Zubair.
 
b. Hajjaz bin Yusuf Ats-Tsaqafi (95 H/714 M).
Dia adalah orang yang paling terkenal diantara orang dekat Abdul Malik bin Marwan dan sekaligus gubernur yang paling masyhur dalam sejarah. Dia dikenal sebagai orang sangat politis, cerdas, keras, dan sekaligus kejam baik saat ia berada didalam yang haq dan tidak haq. Dia termasuk salah seorang pentolan yang memerangi Mu’sha ibnu Zubair yang kemudian menjadikan Irak berada kekuasaan Bani Umayyah. Setelah itu dia diperintahkan oleh Abdul Malik untuk memerangi Abdullah ibnuz Zubair untuk menaklukan Hijaz. Dia berhasil menaklukan dan membunuh Abdullah Ibnuz Zubair. Sejak itulah dia menjadi gubernur Hijaz.
Tak kala terjadi krisis di Irak, maka Abdul Malik bin Marwan mengangkatnya sebagai gubernur. Hajjaz menggunakan segala cara kekerasan dan kekejaman untuk melawan orang-orang Irak, hingga Irak akhirnya menjadi stabil. Pengaruhnya meliputi kawasan timur secara keseluruhan. Dia memiliki peran yang sangat besar dalam melapangkan rintangan yang dihadapi oleh pemerintah Bani Umayyah. Kekerasan seakan menjadi suatu kepastian yang harus dia lakukan demi tercapainya keamanan dan kedamaian.
 
c. Khawarij
Gerakan Khawarij mengalami kemajuan di Irak dan Jazirah Arabia. Namun panglima perang Bani Umayyah berhasil menaklukan mereka dan menghancurkan sebagian besar dari mereka. Pemimpin-pemimpin Khawarij yang terkenal diperiode ini adalah Ibnul Fuj’ah dan Syabab Ibnu Syaibani.
 
4. Perkembangan Peradaban Islam Pada Masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. b. Sebelum membahas lebih lanjut tentang peradaban Islam Khalifah Abdul Malik bin Marwan, terlebih dahulu penulis perlu paparkan arti peradaban. Peradaban Islam ialah pencapaian-pencapaian komunitas yang dilakukan manusia dengan alat perantara Islam sehingga melahirkan kemajuan baik dibidang politik, hukum, seni, budaya, teknologi, dll.
Kaitannya dengan perkembangan peradaban Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
 
a. Bidang Bahasa dan Sastra
Dalam tata bahasa, pada masa Abdul Malik bin Marwan bahasa Arab menjadi sangat maju. Bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara sehingga semua perintah dan peraturan serta komunikasi secara resmi memakai bahasa Arab. Akibatnya bahasa Arab dipelajari oleh semua orang dan tumbuh lah ilmu Qowaid dan ilmu lain untuk mempelajari bahasa Arab.
Bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara dan berkembang pesat sampai sekarang pada banyak negara seperti Irak, Syiria, Mesir, Libanon, Libia, Tunisia, Aljazair, Maroko, disamping Saudi Arabia, Yaman, Emirat Arab, dan sekitarnya.
 
b. Bidang Infrastruktur Fisik
Abdul Malik bin Marwan yang ahli dalam bidang Arsitektur. Dia adalah seorang yang berkemauan keras dan berkemampuan melaksanakan pembangunan. Dia membangun panti-panti untuk orang cacat. Semua personil yang terlibat dalam kegiatan yang humanis ini digaji oleh negara secara tetap. Dia juga membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.
 
c. Bidang Administrasi Negara
Berkaitan dengan administrasi negara, Khalifah Abdul Malik bin Marwan melakukan Inovasi-inovasi pembenahan administrasi negara. Sistem administrasi yang bersifat feodalistic dan manual diganti dengan sistem administrasi yang modern. Disamping itu juga dalam mempermudah komunikasi administrasi, bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa administrasi. Abdul Malik bin Marwan juga merubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai di daerah- daerah yang dikuasai Islam diganti dengan mata uang sendiri pada tahun 659M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab.
 
d. Bidang Ekonomi
Perkembangan ekonomi masyarakat pada masa ini cukup maju, terutama bidang perdagangan. Hal ini berawal dari terobosan sang Khalifah yang membuat mata uang tunggal dalam Negara. Masyarakat semakin aman dan termotivasi dalam dunia bisnis, terutama perdagangan karena adanya mata uang tunggal. Diperkirakan pada zaman ini perdagangan kain sutera sudah mulai berkembang dan maju.
 
e. Bidang Madzhab dan Pemikiran.
Pada zaman pemerintahan Abdul Malik bin Marwan ini tumbuhlah berbagai macam aliran dan madzhab. Salah satunya adalah madzhab pemikiran Abu Khudaifah Wasil bin Ato’ Al-Ghazali yang terkenal dengan sebutan aliran Mu’tazilah . Aliran Mu’tazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad ke II Hijriah dikota Basroh, pusat ilmu dan peradaban islam pada saat itu. Tempat perpaduan budaya asing dan pertemuan bermacam-macam agama.
Pada pemerintahan ini pula paham Khawarij mengalami perkembangan pesat terutama di Irak dan Jazirah Arab.

Abdul Malik bin Marwan merupakan putra dari Khalifah Marwan bin Hakam. Nama lengkap beliau adalah Abdul Malik bin Marwan bin Hakam bin Ash bin Umayyah. Beliau dikenal sebagai “Pendiri kedua” Pemerintahan Dinasti Bani Umayyah.
Pemerintahan Abdul Malik bin Marwan yaitu Monarchi Heridetis (kerajaan turun menurun)
Beberapa perkembangan Peradaban Islam Pada Masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan diantaranya adalah :
1. Bidang bahasa dan sastra
2. Bidang infrastruktur fisik
3. Bidang admistrasi negara
4. Bidang ekonomi
5. Bidang madzhab dan pemikiran
 
Sumber:http://faiqahnurazizah.blogspot.co.id/2014/01/biografi-abdul-malik-bin-marwan.html

Selasa, 01 Maret 2016

Ringkasan Sejarah Marwan bin Hakam dan Kepemimpinannya

Ringkasan Sejarah Marwan bin Hakam dan Kepemimpinannya


Daulah Umayah (41-132H/661-750M) yang berkedudukan di Damaskus, para penguasanya berasal dari satu keturunan yaitu keturunan Umayah bin Abdu Syam bin Abdu Manaf. Dalam kekhalifahan Bani Umayah terdapat dua cabang, yang pertama adalah keluarga Harb bin Umayah, dan kedua adalah keluarga Abdul ‘Ash bin Umayah.

Khalifah-khalifah yang berasal dari cabang yang pertama yaitu Mu’awiyah bin Abu Sofyan bin Harb, Yazid bin Muawiyah dan Muawiyah II bin Yazid. Pada Muawiyah II bin Yazid inilah cabang yang pertama berakhir. Kemudian dilanjutkan dengan cabang yang kedua, dari keluarga Abul ‘Ash bin Umayyah. Pada cabang yang kedua ini, pemerintah berjalan lama dan turun-temurun. Khalifah yang pertama dari cabang yang kedua ini yaitu, Marwan bin Hakam. Dari sinilah lahirlah pemimpin-pemimpin yang nantinya menjadi khalifah Bani Umayyah selanjutnya.



Biografi Marwan bin Hakam

Marwan bin Hakam merupakan Khalifah ke empat di dalam Daulat Bani Umayyah. Marwan adalah putera paman Khalifah Usman bin Affan, yang mana Marwan itu adalah sepupu Khalifah Usman dan kemudian dinikahkan dengan puteri Khalifah Usman yang bernama Ummu Abban.

Ketika pada masa Nabi terjadi pengusiran terhadap ayah Marwan, yaitu Al-Hakam beserta keluarga, yang pada saat itu Marwan berusia 7 tahun. Usman bin Affan pernah mengajukan permohonan supaya pamannya beserta keluarga diizinkan kembali ke Madinah, akan tetapi ditolak Rasulullah. Begitu pula pada masa Abu Bakar dan Umar, mereka menolak permohonannya agar dapat kembali dari pengasingan di Thaif ke Madinah. Namun, pada masa Usman menjadi khalifah, ia memanggil pamannya sekeluarga termasuk sepupunya Marwan untuk kembali ke Madinah.

Pada masa Khalifah Usman bin Affan, Marwan bin Hakam diangkat untuk mengepalai lembaga sekretriat, yakni Al-dawawin, yang wewenangnya sangat menentukan bagi setiap keputusan khalifah. Pada masa Mu’awiyah menjadi khalifah, Marwan bin Hakam diangkat sebagai Gubernur di Madinah. Kemudian pada masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah , Marwan bin Hakam menjadi pembantu yang terdekat, serta menjadi salah seorang penasihatnya di Damaskus.

Marwan bin Hakam adalah seorang yang bijaksana, berpikiran tajam, fasih dalam berbicara, dan berani. Ia ahli dalam pembacaan Al-Qur’an dan banyak dalam meriwayatkan hadis-hadis dari para sahabat Rasulullah saw yang terkemuka. Dia merupakan lapis pertama dari kalangan Tabi’in, dia banyak meriwayatkan hadis terutama dari Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.



Pengangkatan Marwan bin Hakam Sebagai Pemimpin Bani Umma

Awal perjalanan Marwan bin Hakam sebelum menjadi seorang khalifah, Marwan adalah seorang Sekretaris Negara pada masa Khalifah Usman bin Affan. Pada hakikatnya Marwanlah yang menjalankan pemerintahan dan memegang kekuasaan eksekutif, sementara Khalifah Usman bin Affan yang Menyandang gelar Khalifah. Pada masa Mu’awiyah menjadi Khalifah, Marwan bin Hakam diangkat menjadi Gubernur di Madinah, sebagai pengakuan atas segala bantuan yang telah diberikan marwan kepada Mu’awiyah, dan yang terpenting adalah peristiwa Perang Jamal, Marwan melemahkan Ali bin Abi Thalib dan membunuh Thalhah dengan panahnya. Kemudian pada pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah, Marwan bin Hakam menjadi pembantunya yang terdekat serta menjadi penasihatnya di Damaskus. Selenjutnya pada saat Yazid bin Mu’awiyah, wafat kepemimpinan digantikan oleh Mu’awiyah II bin Yazid namun masa kepemimpinannya itu tidak berlangsung lama. Ketika Mu’awiyah bin Yazid II juga telah wafat, ia tidak menunjuk siapa penggantinya, maka keluarga besar Mu’awiyah mengangkatnya (Marwan) sebagai Khalifah. Ia di anggap sebagai orang yang mampu mengendalikan kekuasaan karena pengalamannya, sedangkan orang lain yang pantas memegang jabatan Khalifah itu tidak didapatkannya. Padahal keadaan begitu rawan dengan terjadinya perpecahan ditubuh bangsa Arab sendiri dan ditambah dengan pemberontakan kaum khawarij dan syi’ah yang bertubi-tubi. Khalifah yang baru ini menghadapi segala kesulitan satu demi satu. Akan tetapi adanya “sukuisme” di kalangan bangsa Arab menyebabkan perpecahan di kalangan Bani Umaiyah. Kalangan bangsa Arab Utara dan kalangan bangsa Arab Selatan. Kalangan bangsa Arab Utara lebih condong kepada Ibnu Zubair, sedangkan kalangan bangsa Arab Selatan mendukung Bani Umayah, namun di dalam tubuh Bani Umayah sendiri terjadi pecah belah. Sebagian ingin mengangkat Khalid bin Yazid, dan sebagian ingin mengangkat Marwan bin Hakam.

Faktor-faktor Marwan bin Hakam menjadi kholifah:

1. Mundurnya Mu’awiyah II dari kekhalifahan.

2. Adanya konspirasi politik dengan Ummu Khalid setelah dinikahi.

3. Mendapat dukungan dari sebagian masyarakat Arab.

4. Kemampuan meredam masyarakat Demonstran.

5. Terpilihnya Marwan dalam Mu’tamar Al-Jabaiyah pada bulan zulqaidah Th 64 H & menetapkan pengganti Marwan yaitu Khalid bin Yazid, Amru bin Sa’id.



Kiprah Marwan bin Hakam

Marwan bin Hakam adalah Khalifah ke empat didalam daulat Bani Umaiyah. Tugas yang pertama setelah menjadi Khalifah adalah menyelamatkan kedudukannya dan mengembalikan orang-orang suku di jazirah kedalam kekuasaannya.

Kebijakan awal pemerintahan Marwan bin Hakam:

1. Menyelamatkan posisinya dan mengembalikan suku-suku dalam wilayahnya.

2. Meredam gerakan Abdullah ibnu Zubairdi Hijaz (Makah), Irak, Mesir, sebagin Suriah.

3. Meredam gerakan-gerakan di Syam yang hendak mengangkat Kholid bin Yazid.

4. Mengalahkan gerakan Khowarij dan Syi’ah.

5. Menghentikan gerakan Al Dhahak ibnu Qois dan An Nukman ibnu Basyir.

6. Mengangkat puteranya Abdul Aziz sebagai gubernur di Syam.

7. Meredam gerakan Mus’ah ibnu Zubair di Palestina.

Dalam kepemimpinan, Marwan bin Hakam menghadapi perjuangan yang lama. Mula-mula perjuangan melawan orang-orang dari kabilah Ad-Dhahak bin Qais. Dia juga mampu menguasai Syam kembali kemudian mengambil Mesir dari tangan Abdullah ibnu Zubair. Pertempuran hebat terjadi antara Ad-dhahak dengan Marwan bin Hakam pada suatu tempat yang bernama Marj-Rahit dalam wilayah distrik ghouta Damsyik. Pertempuran tersebut terjadi pada bulan Muharam tahun 65 H, dimana mengakibatkan Ad-Dhahak dan para pengikutnya tewas, dengan demikian seluruh daerah Syam dikuasai oleh Marwan. Kemenangan atas pertempuran ini berpengaruh kuat terhadap Mesir dan Libya dan seluruh pesisir Afrika Utara. Semuanya Mengangkat bai’at terhadap Marwan bin Hakam.

Pertempuran marj rahit juga menghasilkan kesepakatan untuk mendukung Marwan dan sekarang Marwan melanjutkan perlawanannya terhadap provinsi-provinsi lain yang menerima Ibnu Zubair. Mesir adalah sasaran yang pertama yang paling mudah. Tanpa mengalami kesulitan sama sekali Marwan berhasil membujuk orang-orang di Mesir untuk menarik kesetiaannya dan membai’at Marwan bin Hakam. Hal ini merupakan pencapaian Marwan bin hakam sebelum meninggal dunia.

Sebelum meninggal dunia, Marwan telah membai’at dua orang putranya sebagai putra mahkota yang akan menggantikannya sebagai Khalifah berturut-turut, yaitu Abdul Malik bin Marwan dan Abdul Aziz bin Marwan. Dengan demikian Marwan bin Hakam telah mengabaikan keputusan dari Muktamar Al-jabiyah.

Meskipun diakui bahwa Marwan adalah orang yang berjiwa besar dan bercita-cita tinggi, tetapi dia hanya berkuasa selama 9 bulan, tidak sampai 1 tahun. Lebih tepatnya 9 bulan 18 hari. Marwan bin Hakam meninggal dunia karena dicekik oleh ibunya Khalid dalam keadaan tidur. Marwan bin Hakam meninggal pada bulan Ramadhan tahun 65H/685M, ia wafat dalam usia 63 tahun.

Pada masa pemerintahan Marwan bin Hakam ada orang-orang penting yang manjadi tangan kanannya, antara lain Ubaidullah ibnu Ziyad, Abdullah ibnu Marwan, Abdul Aziz ibnu Marwan. Marwan bin Hakam juga telah berjasa menertibkan alat-alat takaran dan timbangan. Setelah Marwan bin hakam meninggal ia digantikan oleh anaknya yang bernama Abdul Malik bin Marwan.





[1]M.Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), hlm. 92.

[2]A.Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, (Jakarta: Al-Husna Zikra, 1997), hlm.64.
 
[3]Ahmad Al-Ushairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media, 2003), hlm. 183.
 
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo, 2003), hlm. 38.
 
[5]A. Syalabi. Op. Cit, hlm. 64.
 
[6]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2010), hlm. 124.